sudah ku terima suratmu malam
tadi yang tersimpan rapi di saku
kanan angin, kerinduanmu yang
mengental sekeras habelur
menggeliat di antara gemulainya
mata-mata angin hingga para
rahim dewadaru menumbuh
kuncup sebelum waktunya
putri dalam cermin yang
mencipta gaharu di antara jiwa-
jiwa batu nan berpantul, adakah
iya terlepas kekang?
ternyata tidak
rembinya masihkah menggetih
luka?
rembuni hatinya penuh duka
ah, nyilu
pun ranyau miliknya terdengar di
kidung selatan
"tolong pecahkan cermin ini, agar
aku mampu menghitung hari."
dan elaina
aku bukanlah pengemis di
hadapan Tuhan,
yang meminta bertutur titah
tentang musim. adakah engkau
menginginkan musim dengan
warnasari?
maka tidurlah abadi di sana dapat
engkau temui seluruh musim
bahkan dapat engkau lihat
laut menangis dan malaikat yang
mati meringis
tak ada kenangan yang perlu ku
ingat tentang lalu
katamu membuat aku berteriak
parau menangis selaksa insan
nan kesurupan
gerimis yang merimis
pepohon yang beringgung
krikil-krikil bernyanyi
menyambut matiku
saat tapak kakiku tergelincir di
ujung jurang tebing adakah
engakau ulurkan jemarimu?
tidak!
engkau hanya menyaksi bisu dan
merentas air mata, terdiam kaku
menutup bibir
lalu elaina
bayangku akan selalu hadir tanpa
santau pun limpung selaksa
sangkela nan tak pegari hingga
diriku merangum nyawamu
dengan lingar
kepada matahari yang menangis
dan angin yang menari dengan
wajah terluka
langit pundung mati diam pada
hening
lalu aku?
masih menunggu takdir yang
bersembunyi dalam rahim
ini sekata impi
yang tersimpan rapi
di pucukpucuk setengah pagi
................... : mati
ku tulis surat ini di tepian bibir
angin dengan memakai keris
bersama tetesan darah dalam
nadi dan bangkai peri berpita
@elmira
14 Mei 2010 [13:30]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar