Telusuri hari disetiap detiknya. Ini bau pagi masih dapat ku rasa. Hari pertamaku mengajar menjadi dosen di sebuah universitas terkemuka di Ibu kota.
Ku tengadahkan wajahku pada langit Lazwardi, awan putih...
"Udah ibu tenang aja, Hana bisa kok kuliah sambil kerja" kataku lembut pada ibu.
"Bukan begitu sayang, ibu takut nanti kamu kurang konsentrasi belajarnya" jawabnya sambil merapikan kue pesanan bu Ratna.
Ibuku sosok wanita yang sangat ku kagumi. Semenjak ayah meninggal lima belas tahun yang lalu. Ibu sendirian membesarkanku. Banting tulang tak kenal lelah.
Bahkan sewaktu aku kecil ibu pernah menjadi pembantu rumah tangga. Tapi sekarang alhamdulilah semenjak aku kuliah sambil bekerja mengajar les privat untuk anak - anak beban ibu berkurang. Ibu sekarang hanya berjualan kue pesanan tetangga.
"Mendingan uang hasil jualan ibu, buat beli jilbab yang lagi tren sekarang aja bu, pasti cocok buat ibu" jilbab yang ibuku gunakan modelnya sudah kuno. Tanpa corak, tanpa bordir. Hanya jilbab polos berwarna hitam.
"Sayang Tuhan tidak pernah melihat penampilan hambanya, tapi hatinya niat yang ibu punya untuk memenuhi perintahnya" jawaban sendu milik ibu. Tapi aku yakin dihati kecil ibu ingin memakai jilbab yang indah dan baju muslim yang bagus.
"Nah Hana, mulai kapan kamu mau berjilbab..?" tanya ibuku.
"Eh..." ini pertanyaan yang paling sulit ku jawab, karna aku belum siap untuk berjilbab. Kegiatanku banyak dan pasti akan merepotkan bila harus kemana - mana mengenakan jilbab.
"Tuhankan gak pernah melihat penampilan hambanya bu, tapi hatinya hehehe" jawabku sedikit bercanda.
Ibuku hanya tersenyum menatapku sambil menggelengkan kepalanya. Dan merapikan kue pesanan bu Ratna yang hampir rampung.
"Hana..." panggil ibu.
"Ada apa bu...?" tanyaku sambil membereskan perlengkapan. Karna sebentar lagi aku akan pergi mengajar les privat untuk anak - anak.
"Jangan pernah bersedih dalam hidup, karna kita ini tidak pernah sendiri" jawab ibuku.
"Ya.. ibu masa kalau nanti ada orang yang kecelakaan atau meninggal gak boleh sedih"
"Jangan pernah bersedih, karna kesedihan itu tak ada guna, jangan pernah bersedih karna kesedihan itu hanya memburamkan dunia, jangan pula pernah bersedih karna kita masih memiliki agama yang kita yakini, rumah yang kita diami, makanan yang dapat kita makan, air jernih yang kita minum, dan sesama yang dapat berbagi rasa" lalu ibu tersenyum padaku.
"Ibu kaya yang mau pergi haji aja nih.." kataku sambil candai ibu.
"Hana ingatlah syair ini selalu, Hukum kematian manusia masih terus berlaku,
karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.
Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita,
dan esok hari tiba - tiba menjadi bagian dari suatu berita,
ia diciptakan sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah,
sedang engkau mengharap selalu damai nan tentram.
Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat,
engkau mengharap percikan api dari genangan air.
Kala engkau berharap yang mustahil terwujud,
engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam.
Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan,
maka manusia di antara keduanya; dalam alam impian dan khayalan.
Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur - umurmu, akan terlipat menjadi lembaran - lembaran sejarah yang akan ditanyakan.
Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda,
kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka.
Dan zaman tak akan pernah betah menemani anda, karena ia akan selalu lari meninggalkan anda sebagai musuh yang menakutkan dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh orang - orang bertakwa."
"Ibu ternyata puitis banget ya" kataku dengan kagum.
Ibu hanya tersenyum. Lalu beranjak untuk pergi, kerumah bu Ratna mengantarkan kue pesanan.
"Hana ibu mau keluar dulu, kamu jangan lupa sholat ama makan ya" kata ibu sambil mengenakan jilbab kunonya. Yang hitam panjang, tanpa sulaman indah ataupun bordiran.
"Iya bu, Hana juga mau keluar sekalian, ibu Sarah minta pelajaran buat anaknya ditambah, kunci ibu yang bawa aja ya..."
"Iya nak hati - hati" kata ibu sambil memunggungiku. Dapat ku lihat punggung ibu, punggung penuh lelah. Ahh.. ibu andai anakmu ini mampu menggenggam lelahmu.
***********
Hari sudah sore, mengajar les privat sungguh melelahkan.
"HANA...!!" suara lantang dari seberang jalan memanggilku. Ternyata Erna teman sekampusku.
"Wah.. Hana selamat ya" katanya sambil mendekat kearahku.
"Selamat kenapa..?" tanyaku heran.
"Ah, kamu ini merendah semua anak - anak dikampus juga udah tau kalo kamu dapat bea siswa"
"Hah..! bea siswa..?" tanyaku lagi masih dengan heran.
"Iya, lho emang surat pemberitahuannya belum sampai..?" tanya Erna.
"Gak ada, atau jangan - jangan ama ibu, tapi ibu lupa" tiga hari memang aku gak kekampus. Bantu ibu dirumah, Menyelesaikan kue pesanan untuk pernikahan teman ibu.
"Iya kali Han, aduh sekali lagi selamat ya" kata Erna, sambil mencium pipiku kanan dan kiri.
"Iya Er, thanks ya"
Aku ingin menangis. Inikah rasanya bahagia itu. Ibu pasti bangga denganku.
Ibu pasti akan memujiku. Aku ingin melihat rekah di bibir ibu saat menyampaikan kabar bahagia ini. Aku ingin di peluk ibu.
Kupercepat langkah kaki saat memasuki gang sempit arah rumahku. Tapi aneh kenapa rumahku ramai, banyak sekali tetangga di halama tak seperti biasanya yang sunyi dan sepi.
Entah mengapa tiba - tiba ada perasaan getir pada hati, jantungku berdetak kencang.
Tanganku dingin, aku takut, mulai muncul pikiran yang tidak - tidak pada benakku.
Seketika ku lihat bu Erna berlari keluar dari dalam rumahku, menghampiriku, memelukku sambil menangis terisak.
"Ibu Erna kenapa..?" tanyaku, berharap semua keadaan baik - baik saja.
"Ibumu Han.. ibu mu..." jawab bu Erna sambil terisak, tanpa bisa melanjutkan pertanyaanku.
"IBU KENAPA..?!" tanyaku lantang.
"Ibumu.. tadi tertabrak, saat pulang dari pertokoan. Orang - orang di sekitar berusaha membawa ibumu ke rumah sakit. Tapi di tengah perjalanan Tuhan berkata lain" sahut pak rt yang sudah berdiri disampingku.
Bagai petir yang menyambar. Masih antara percaya dan tak percaya. Masih teringat percakapan ibu dan aku tadi pagi.
Aku hanya diam mematung, entah harus berkata apa.
Tuhan mengapa Kau ambil ibuku. Ibuku belum bahagia, akupun belum sempat menggenggam lelahnya. Air mataku jatuh membasahi pipih. Menghujam batinku.
"Ini Han" Kata pak rt, sambil menyodorkan bingkisan merah jambu.
"Ini milik ibumu."
Tanpa pikir panjang ku ambil bingkisan itu, langsung ku buka.
Terperangah aku, sedih, haru.
Jilbab.. ya sebuah jilbab dan sepucuk surat.
Teruntuk anakku Farhana,
Ibu senang sekali, saat mendapat surat pemberitahuan bea siswa milikmu nak.
Bangga hati ibu, mempunyai anak secerdasmu.
Jilbab putih ini sengaja ibu hadiakan untukmu.
Mengapa putih...?
karna ini mewakili hatimu yang tulus nak, mencintai ibu.
sengaja ibu pilihkan jilbab yang polos tanpa corak, karna ini mewaki akhlakmu yang indah tanpa celah.
Farhana anakku sayang,
jadilah engkau seperti namamu yang artinya bahagia.
Dari seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya.
**********
"Hana.." panggilan ibu Nuri seorang dosen senior di universitas ini, membuyarkan seluruh lamunan masa laluku.
"Sebentar lagi kelas masuk, inikan hari pertamamu mengajar sebagai dosen" kata bu Nuri mengingatkan.
"Ia bu, terimakasih sudah mengingatkan" jawabku sambil tersenyum.
"Hana kalau ibu lihat sepertinya kamu ini wanita yang murah senyum ya.." tanya ibu Nuri.
"Aku akan terus tersenyum bu, meski apapun yang terjadi. Dengan tersenyum sosok wanita yang paling ku cintai hidup dalam bingkai hati, akupun akan terus tersenyum selama kematian dan diriku masih ada jarak sejengkal" jawabku, seraya tersenyum menatap ibu Nuri.
Ibu Nuri hanya mengkerutkan kening, dan menatap haran padaku. Mungkin dia tidak mengerti makna kata - kataku, dan takkan pernah mengerti.
Bukan begitu ibu yang dirimu katakan saat itu, gumamku dalam hati seraya menengadahkan wajah kelangit. Langit lazwardi.. awan putih,
seputih jilbab milikku.
@elmira




Tidak ada komentar:
Posting Komentar