seperti aku yang berdiri pada
hamparan nan meluas diantara
pasir menyaksi angin menari.
gemulainya menampar pipi,
mencubu jiwa yang tercabik dari
kenangan masa lalu, hingga air
mata merinai bersenandung
lembut memulai.
lantunan murai menghias fajar
lahirkan hari baru yang sejatinya
merupa. menyempurnakan takdir
yang masih tersimpan rapi dalam
rahim, menutup peluh guratan
perih dalam hati
pun lika tabik sayarah yang
padanya bulan titipkan malam
melepas dengan rindu antara
bayang menggenggam, tabik
sayarah yang mengecup mentari
dalam tidur nyenyaknya agar
terbangun tak terlelap, pulangkan
gemintang pada ibunda hingga
tak ada yang merarai nyilu diri
semburatkan langit membias
rangkul asa
namun ini aku yang pada diriku
membayang mengadu dalam
gaduh pilu semesta menghujam,
acuh tak mampu.
terjatuh
: yang kesekian kali dalam
mandala galau.
ini mengata reranting bukan titik
yang diangan-angan bukan juga
penghabisan bayang
: terista bertalun
hamparan nan meluas diantara
pasir menyaksi angin menari.
gemulainya menampar pipi,
mencubu jiwa yang tercabik dari
kenangan masa lalu, hingga air
mata merinai bersenandung
lembut memulai.
lantunan murai menghias fajar
lahirkan hari baru yang sejatinya
merupa. menyempurnakan takdir
yang masih tersimpan rapi dalam
rahim, menutup peluh guratan
perih dalam hati
pun lika tabik sayarah yang
padanya bulan titipkan malam
melepas dengan rindu antara
bayang menggenggam, tabik
sayarah yang mengecup mentari
dalam tidur nyenyaknya agar
terbangun tak terlelap, pulangkan
gemintang pada ibunda hingga
tak ada yang merarai nyilu diri
semburatkan langit membias
rangkul asa
namun ini aku yang pada diriku
membayang mengadu dalam
gaduh pilu semesta menghujam,
acuh tak mampu.
terjatuh
: yang kesekian kali dalam
mandala galau.
ini mengata reranting bukan titik
yang diangan-angan bukan juga
penghabisan bayang
: terista bertalun
@ Elmira
14 Juni 2o10 [05:10]
14 Juni 2o10 [05:10]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar