o, peluh dirimu gadis melambai
menanam kasturi dalam hati
berteman embun pada ujung
dagu
memeluk impi
menghitung curah hujan tarian
mutiara langit
lagi-lagi engkau mendekam
terhimpit tanya
nan mampu ditawar
pada siapa gadis?
engkau menaruh harap
sedang adanya mereka
telah melipit hati
gakari yang terabai
sampai akhir tertutup lembaran
takdir
sudah ku belai kabut putih, hingga
gigil peluhmu gemertak henti
tatapan sayu menikam ruang
diantara petak menyambung
pijak tak tak para ubin menyiksa
lalu, hanya tersisa bibir mungil
terbata kata
dan anginpun menangis, langit
gerimis rintik merimis
selayang dalam pandang mulai
meredup, namun dalam laun
tetap merapal harap,
"bukankah hidup kita harus
bahagia?"
menyata jawab hanyalah entah,
bahkan Tuhanpun hanya mampu
diam
hingga terpejam dua retina
dalam pekat abadi, pada
heningnya altar yang terabai
@elmira
06 Juli 2010 [07:10]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar