mandala purnama saat simpai sempurna, akan kah?
adalah purnama saat simpai
menyempurna adakah lekukan
gemintang menyinari? sekalipun
perlip, bukan yang kelip, maupun pelik. tidak.
ah.. biarkan diriku
menghela nafas sejenak lalu
mengatakan tauhkan perbedaan
mu dengan purnama? purnama
berpijar hanya saat malam hari,
sedangkan dirimu setiap saat.
namun ini bukanlah suatu ke
abadian, seperti halnya saat
dedaun menguning gugur
terlepas dari reranting terhempas
menyapu wajah bumi mengecup
hening.
hilang ku meramu kelabu, pudar bersama kabut
hilang?, jejak tapak akan terhapus
bayang menjelabu, kelabu. yang
tertinggal hanya kenang masa
silam di antara mereka-mereka.
pun sayap kan merapuh, rangup,
bertebar satu-satu tanpa
danghyang hingga tak menyisa,
lalu tertinggal pudar
dan di retak kenangan itu masih
tertinggal sepercak bayang lalu
yang abadi tersimpan bahkan tak
berpetak
mungkin?
akan seterusnya berbinar
melebihi pualam dewi
membentangkan sayapnya
melebihi garis timur dan barat
di retak kenangan itu masih
tertinggal sepercak bayang lalu
yang akan terus berpijar selaksa
ribuan purnama
karena kenangan itu
: bayang diri nan abadi
embun sepi itu air mata
lalu kembali menjadi embun
menari menutup terkunci katup-katup letih
di jerat sapa rasa sakit, selaksa
lukisan langit-langit
di sana di ujung reranting ada
embun-embun sepi, yang sedang
menari menolak hasrat hati
agar terus kuat tak tertikam
: mati
@Elmira
Kairo,
29 Mei 2010 [20:02]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar