angin menggugat
matahari menangis
reranting mati
: itu tentang langkah yang
berjalan gontai nan merapuh.
saat langit bertanya, mengapa
ranting kembali?. mungkinkah
ada panggilan yang merindu?
bernyanyi di tepian cermin hati.
ini bukan tentang bayang yang
membayang di pelataran altar
suci atau mandala pada labirin
juga bukan tentang dedaun yang
merindukan embun lindap
membening.
ini bukan sekalipun bukan tentang
takdir yang masih tertidur di
dalam rahim. ataupun tentang
langit yang berpura-pura
menangis
berduka cita pun tentangmu yang
bergumam merindu
: ini tentang ranting sepi yang
senandungnya sau-sau
melanglang menari, di hunian
mimpi mengkais, menangis,
memeluk rasa. selaksa gemintang
yang merarai menahan pedih
terpetik malam. di antara wajah
yang menghias lembut gemulai
jemari kenangan.
"ah, diriku sulit meraba serpihan
kenang, meski nadi sudah tergigit
peluh."
hingga melangkah, terjatuh,
terbangun, tertatih dan
melangkah kembali, lalu berlari.
: itu
iya itu!
tentang ranting sepi bukan titik
yang di angan-angan juga bukan
penghabisan bayang.
@Elmira
Kairo,
28 Mei 2010 [06:40]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar