balalaika berdawai (III)

curah hujan mutiara langit yang
bertakung mengendap di antara
bebayang telapak kaki teja
terhenti lalu tertakung

di sana ada senandung ranting
yang meredam jiwa para peri
memutar tarian angin gemulai
lewat semesta mengalunkan
irama balalaika
tak perduli meski pasara
menganga menunggu
dan pawana yang memberi
warna antara utara ke katulistiwa
siap melumat

kelopak kasuma berguguran
mengawan menjadi hiasan wajah
langit selaksa pelangi sebelum
saling bercumbu

namun balalaika berdawai
dimana meletak ragamu?

hingga malam tak mengampas
jati pun tak ku temui sudah satu
bayang selaksa seribu purnama
yang tanpa pijar, menghening
merenung tanpa peringin

balalaika berdawailah hingga
fajar menyingsing, matahari
terbangun. taburkan pasir milik
ancala selatan mengabit pelangi
sirnai kabut meta. tundukan
mega

hingga para angin menggugat
dan makian camar memersik pagi

lalu aku?
menikmati kematian
untuk yang kesekian kali

@Elmira
Kairo,
11 Juni 2010 [10:00]

Tidak ada komentar:

 
 
 

gadis kupu-kupu

gadis kupu-kupu
Hei, kau gadis kupu-kupu.. pa bila ku buka sangkarmu, adakah dirimu akan menjadi binal?, JAWAB..!!, takkah dirimu lihat air mataku menghujam pedih menunggu!. Tetaplah dirimu disana jangan engkau melangkah sejengkalpun melihat dunia luar, tetaplah dalam sangkar, rajut senyummu hingga sempurna, tetaplah. Hingga sampai saatnya nanti matahari lelah pijar.

Bunga Kapas

Bunga Kapas
ah, bunga kapas.. pergilah terbang melayang mengawan yang menawan, lalu pulanglah kembali ceritakan padaku tentang lima warna musim.

pudar Harapan lamun

pudar Harapan lamun
Biarkan aku terjatuh, jangan takut! jangan pernah takut. Biar mereka yang di bawah sana tau!, bahwa aku memiliki apa yang mereka tak miliki. Biarkan mereka semua tau!, yang diatas maupun yang di bawah, bahwa aku masih memiliki Bentang, untuk nikmati hariku di letak tertinggi.
 
Copyright © Ranting Sepi
Using Protonema Theme | Bloggerized by AVR