curah hujan mutiara langit yang
bertakung mengendap di antara
bebayang telapak kaki teja
terhenti lalu tertakung
di sana ada senandung ranting
yang meredam jiwa para peri
memutar tarian angin gemulai
lewat semesta mengalunkan
irama balalaika
tak perduli meski pasara
menganga menunggu
dan pawana yang memberi
warna antara utara ke katulistiwa
siap melumat
kelopak kasuma berguguran
mengawan menjadi hiasan wajah
langit selaksa pelangi sebelum
saling bercumbu
namun balalaika berdawai
dimana meletak ragamu?
hingga malam tak mengampas
jati pun tak ku temui sudah satu
bayang selaksa seribu purnama
yang tanpa pijar, menghening
merenung tanpa peringin
balalaika berdawailah hingga
fajar menyingsing, matahari
terbangun. taburkan pasir milik
ancala selatan mengabit pelangi
sirnai kabut meta. tundukan
mega
hingga para angin menggugat
dan makian camar memersik pagi
lalu aku?
menikmati kematian
untuk yang kesekian kali
@Elmira
Kairo,
11 Juni 2010 [10:00]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar