Andaru sahabatku surat rindumu mengingatkanku pada lalu, sungguh aku ingin memutar waktu.
Andaikan setelah itu aku harus hilang, biarlah..
Asal kebersamaan itu terlulang sekali lagi.
Tak ku dapati kupu - kupu pada negeri ini pun kepak para camar sepertimu. Tapi Andaru aku sudah tak pernah menangis, wajah matahari selalu ada disudut kamar menemaniku, dia bayang bayang dirimu.
Garis takdir memang tertulis sebelum kita dilahirkan, bahkan sebelum tercipta Adam. Ini kehidupan, tak mempunyai hati tak mengenal belas kasih. Silam lalu masih tera kebersamaan, sekarang berpisah sudah lewati muara samudra.
Apa dirimu masih seperti dulu ?
Menantang ombak, melengkung canda di tiap ruang sisi.
Andaru, aku dapati dirimu gundah saat ini. Entah apa yang tertinggal dibenakmu. Kau yang selalu berusaha terlihat tegar dan kuat. Berusah menggenggam semua sendiri. Tapi tanpa dirimu sadari genggaman itu kini merenggang. Aku takut tak ada lagi titipan di tiap sayap camar camar pada pawana.
apa dirimu masih sering tertegun sendiri diatas kapal? berteman sepi?
saksikan para burung berhijrah dan angin menari hingga fajar.
Sekalipun jangan aku ingin saat itu dirimu dalam lelap, tertidur nyenyak.
Masih dapat diriku rasa tiap bisikan laun kata milikmu di telinga,
"Mencapai nadir" bisikmu tenang padaku.
"Jangan biar aku terlebih dahulu" jawabku.
"Biar aku dulu, kalau aku sudah sampai sana nanti kau ku kabari."
"Jangan biar aku lihat dulu apa tempat itu layak untukmu."
"Tapi tetap aku yang akan mencapai awal titik nadir."
"Jangan ini gak adil, biar kita berdua mencapai nadir."
".........................
Andaru apa dirimu tahu perbedaanmu dengan purnama?
Purnama hanya berpijar saat malam hari
sedang dirimu berpijar disiang maupun malam.
Andaru tampar itu gundah,
aku tak ingin lagi mendengar camar bercerita tentang rapuhmu
Dirimu adalah laksamana sang penakluk di tengah o pui thong
dirimu bukan berada pada lakara
ataupun seorang yang melalang
matahari selalu berharap kau memudar, rangum mimpimu.
tak perlu lagi kesedihan
terus sebrangi impian meski nadi putus menggetih, rarai raga.
Bila takdir memihak nanti, aku menunggu bermain dewi - dewi bersama bumi randu hakiki wahai gadis maki camar.
ingat "bahwa jarak bukanlah aral"
Sahabat yang mencintaimu
Elmira
(Pieris Rapae)
Kairo 2010




Tidak ada komentar:
Posting Komentar