Cukup gegap gempita di jumantara luas, biarlah sekali bumi tak bersua mengunyah sunyi meski ribu menghuni. Mentari pakailah cadar ini sejenak, milik batari surga selatan.
Lalu pudarkan pijarmu setengah.
Agar pasir berbisik gemersiknya menghening. Musafir kelana hilang rimpuh, tak tuai dahaga pada rangkung.
Serpih gedabah mentari yang tertinggal mengecup mesra wajah bumi. Lalu beranjak pulang ke timur.
Senja menapak langit, hiasi lazuardi rancaknya memikat, manik manik teja mengundang perlip. Rembulanpun mengintip sedikit.
Tapi aku menutup tirai...
Ada kerapuhan di pelupuk senja, yang tertutup tak terlihat.
Senja dirimu tak lebih rangup dariku.
Malam memacik rusukmu hampir remuk.
Agar engkau tak menjadi nata dan dirinya tetap dawana penyanggah pilar tawang.
Andai mereka tau betapa rapuhnya engkau senja... silu.
Denting ranting rampun sepai
hening
Kelingking gemintang berdenting
saksimu.
Rupa warni dawat milik Tuhan menghias guratan karya. Cipta waruga hadap muka.
Lalu dawat pelangi yang tertumpah basahi bumi, menjadi cakrawala, dibawa pergi mengawan cabak cabak.
Hingga kerai di tutup, menunggu esok kembali.
@elmira




Tidak ada komentar:
Posting Komentar