Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan !

Dokter Jasim al-Haditsy seorang penasehat kesehatan jantung anak di Amir Sulthan Center untuk Penyakit Jantung Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh. Mengisahkan kepadaku, bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit, ada seorang pasien yang meninggal dunia. Ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara, 'Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah'...

Ia berkata, "Saya rasa adzan subuh. Kemudian ia bertanya kepada perawatnya, "Jam berapa sekarang?" perawatnya menjawab, "Jam satu malam."

Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya.

Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaannya semasa hidup, mereja menjelaskan, 'Ia bekerja sebagai muadzdzin (yang mengkumandangkan azan) pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu menghatamkan Al-Qur'an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan.

Sekarang biar saya kisahkan lagi sebuah kisah yang lain.

Dhiya adalah seorang pegawai yang bertugas memandikan jenazah di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata mengisahkan kepadaku bahwa seorang komandan pleton Angkatan udara memintanya untuk memandikan salah satu rekannya yang telah meninggal.

Dhiya berkata, "Maka saya dan komandan tersebut memandikan rekannya bersama-sama, lalu pada pukul setengah dua belas siang kami berpisah, ia membawa jenazah tersebut ke masjid untuk dishalatkan kemudian ia akan membawanya ke pemakaman, sedangkan saya pulang bersiap-siap untuk menunaikan shalat zhuhur. Pada pukul satu siang rumah sakit menghubungiku bahwa di sana ada satu jenazah yang datang untuk segera dimandikan karena kerabatnya ingin menyalatkannya pada waktu Ashar, maka saya segera berangkat ke rumah sakit. Setibanya di sana saya membuka penutup jenazah tersebut, betapa terkejutnya saya, ternyata jenazah itu adalah komandan pleton yang baru dua jam lalu berpisah dengan saya, dialah yang ikut serta memandikan rekannya yang meninggal lebih dahulu, kemudian membawanya untuk dishalatkan.

Saya sempat kaget dan shock, sehingga tidak bisa menguasai diri. Saya segera pergi ke ruang kantor saya untuk duduk sebentar an berdzikir kepada Allah Ta'ala, kemudian dengan bertawakal kepada Allah saya memandikannya.

Setelah memandikannya saya bertanya kepada kerabatnya, "Apa yang terjadi kepada orang ini?." Mereka menceritakan, "Ia turun ke dalam makam untuk meletakkan jenazah rekannya, dan saat ingin naik ia merasakan sakit di dadanya, lalu ia meninggal di dalam makam tersebut."


Maha Suci Allah,
sungguh benar! Cukuplah kematian sebagai peringatan. Semoga Allah merahmati Ali bin Abi Thalib yang sangat khawatir terhadap dua hal, panjang angan - angan dan memperturutkan hawa nafsu.

Sungguh kisah - kisah kehidupan, kejadian - kejadian nyata yang begitu dekat ini menuntut kita untuk mengintropeksi diri dan merenungkan keadaan kita.

Kita harus menjadikan kematian sebagai pengingat yang selalu melekat dalam pikiran dan benak kita, sehingga ketika melihat baju warna putih kita akan segera mengingat kain kafan, liang lahat, pertanyaan Munkar dan Nakir juga seterusnya. Apakah kita udah siap menghadapinya?.

Adakah di antara kita jika melihat api di tungku ataupun ditempat lain segera bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku telah melakukan satu perbuatan yang mendekatkan diriku padanya." Lalu mengingat ingat semua perbuatan dosanya seraya bertaubatan dan berjanji kepada Allah untuk tidak akan mengulanginya lagi?.

"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." {QS. Al-Zukhruf:36}

Hendaklah kita bersandar pada Al-Qur'an, shalat dan iman.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram." {QS. Al-Ra'd:28} dan sungguh dzikir yang paling utama adalah shalat.

Sesungguhnya kematian adalah sebuah peringatan.

Tidak ada komentar:

 
 
 

gadis kupu-kupu

gadis kupu-kupu
Hei, kau gadis kupu-kupu.. pa bila ku buka sangkarmu, adakah dirimu akan menjadi binal?, JAWAB..!!, takkah dirimu lihat air mataku menghujam pedih menunggu!. Tetaplah dirimu disana jangan engkau melangkah sejengkalpun melihat dunia luar, tetaplah dalam sangkar, rajut senyummu hingga sempurna, tetaplah. Hingga sampai saatnya nanti matahari lelah pijar.

Bunga Kapas

Bunga Kapas
ah, bunga kapas.. pergilah terbang melayang mengawan yang menawan, lalu pulanglah kembali ceritakan padaku tentang lima warna musim.

pudar Harapan lamun

pudar Harapan lamun
Biarkan aku terjatuh, jangan takut! jangan pernah takut. Biar mereka yang di bawah sana tau!, bahwa aku memiliki apa yang mereka tak miliki. Biarkan mereka semua tau!, yang diatas maupun yang di bawah, bahwa aku masih memiliki Bentang, untuk nikmati hariku di letak tertinggi.
 
Copyright © Ranting Sepi
Using Protonema Theme | Bloggerized by AVR