: Daun kering
retakan permukaan hening, memudar warna yang hijau kuning. Dekati penghabisan hari ikuti denting, merambat gugusan gugur sedikit sepah takdir. Mulai melayang mengawan laun. Ditengah jumantara lazwardi hembusan hamparan peri dan teman kapak cabak.
Daun kering itu layahlayah pada pawana menari tarian lentesasi tanpa kidung batari selatan. Menjadi penghias tawang, saksi bisu nagara. Bercengkrama bersama reranting patah. Bercumbu dengan dewadaru dan dedaun hijau yang beringung mesra.
Hingga langit menangis
Gerimis rintikrintik
Merimis melirihlirih
Membasahi rintisrintis
Tanpa mengenal masa merisa arah
Hujanpun merenyai.
Dan daun keringpun menggigil risik mengusap wajah bumi.
@elmira
Kairo,
15 Februari 2010 [19:49]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar