Cukup gegap gempita pada jumantara, biarlah sekali bumi tanpa sua, tanpa rasa, rantus laga. Matahari, pakailah cadar ini sejenak milik batari kidung utara agar sangkak pijarmu setengah. Pasir berbisik gemersiknya menghening, musafir kelana hilang rimpuh tak tuai dahaga pada rangkung.
Serpihserpihan gedabah ruas matahari yang terkikis menghias wajah bumi, lahirkan senja dan teja pada tawang yang menghias lazwardi hingga rancak memikat, mengundang perlip selaksa kidakida pada waruga.
Ini jumantara ada rapuh ditiap sisi yang tertutup tak terlihat, yang tersembunyi tak tersentuh.
Saat malam nikahi rembulan, tangis lirih mendengung diluar kirai. Saat malam memacik rusuk senja hingga hampir rarai remuk menghimpun. Dan saat malam berkuasa menjadi dawana penyangga pilar tawang.
Jumantara ciptakan guratan karya waruga, menghadap muka hingga gapai cakrawala. Dan kelingking gemintang yang berdenting adalah saksi bisu takdir jumantara.
@elmira
Kairo, 12 Februari 2010 [18:30]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar