Ini reranting, beringung cumbu tarian pawana pada denting. Senandung trista yang rangum miliknya hingga terjatuh pada ngarai. Hamparan ranum impian yang terikat abadi dibayang lalu, selaksa pasara yang tak tertutup.
Pasung ini reranting, pada peringgitan sunyi, hingga rangup dendang labirin dan menggetih, menetes lingar basahi wajah bumi. Tanpa naungan peraduan nyatuh. Tatapan hampa pungkir sabda yang terletak digaris nadi.
Saat tak tersadar, berharap semu mengibas sayap melayang, mengawan, menawan, sudi bercengkrama bersama batari pemilik singgasana.
Ini masih senandung reranting tak ada manggala pada diri hanya menimang hati. Rembi menghujam pipi mengusik jiwa yang tersayat nyilu. Reranting ingini lil rantus nyawa, rarai remuk berakhir sudah tak terbendung.
: Sekata milik reranting, bukan titik yang dianganangan, bukan juga penghabisan bayang
Pasung ini reranting, pada peringgitan sunyi, hingga rangup dendang labirin dan menggetih, menetes lingar basahi wajah bumi. Tanpa naungan peraduan nyatuh. Tatapan hampa pungkir sabda yang terletak digaris nadi.
Saat tak tersadar, berharap semu mengibas sayap melayang, mengawan, menawan, sudi bercengkrama bersama batari pemilik singgasana.
Ini masih senandung reranting tak ada manggala pada diri hanya menimang hati. Rembi menghujam pipi mengusik jiwa yang tersayat nyilu. Reranting ingini lil rantus nyawa, rarai remuk berakhir sudah tak terbendung.
: Sekata milik reranting, bukan titik yang dianganangan, bukan juga penghabisan bayang
@elmira
Kairo, 16 Februari 2010 [18.00]
Kairo, 16 Februari 2010 [18.00]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar