langit teduh

langit berkanvas putih
terlukis hamparan gemintang
merias cakrawala
mengunci dua kutub khatulistiwa

kasih tutur pada kami
selembut kidung surgawi
seindah nirwana bumi
mengharum gaharu dewi

tak pernah habis bayang
juga tak merisak hujam pedih

menjadi penaung selaksa nyatuh dewadaru
menjulang merekah bunda
: jumantara

tak melapas
dalam sepi jiwa merindu
lazuardi yang seputih kapas
rerangkai dendang menyendu

: dia singgasana terindah Tuhan
saruloka
langit teduh

seperti itu aku memanggilmu
sampai nanti


Kairo,
15 Maret 2010 [16:25]

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Indah Indah, semoga Langit teduh seindah hatimu

Ranting Sepi mengatakan...

terimakash ya

 
 
 

gadis kupu-kupu

gadis kupu-kupu
Hei, kau gadis kupu-kupu.. pa bila ku buka sangkarmu, adakah dirimu akan menjadi binal?, JAWAB..!!, takkah dirimu lihat air mataku menghujam pedih menunggu!. Tetaplah dirimu disana jangan engkau melangkah sejengkalpun melihat dunia luar, tetaplah dalam sangkar, rajut senyummu hingga sempurna, tetaplah. Hingga sampai saatnya nanti matahari lelah pijar.

Bunga Kapas

Bunga Kapas
ah, bunga kapas.. pergilah terbang melayang mengawan yang menawan, lalu pulanglah kembali ceritakan padaku tentang lima warna musim.

pudar Harapan lamun

pudar Harapan lamun
Biarkan aku terjatuh, jangan takut! jangan pernah takut. Biar mereka yang di bawah sana tau!, bahwa aku memiliki apa yang mereka tak miliki. Biarkan mereka semua tau!, yang diatas maupun yang di bawah, bahwa aku masih memiliki Bentang, untuk nikmati hariku di letak tertinggi.
 
Copyright © Ranting Sepi
Using Protonema Theme | Bloggerized by AVR